Rekor Kasus Covid-19 dan Desakan Jokowi Ambil Alih Penanganan

0
(0)

JAKARTA, Jumlah pasien yang terjangkit virus corona atau Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah. Berdasarkan data pada Jumat (25/9/2020) pukul 12.00 WIB, tercatat ada 4.823 kasus Covid-19 dalam 24 jam terakhir.

Penambahan pasien itu menyebabkan kasus Covid-19 di Indonesia kini mencapai 266.845 orang.

Angka 4.823 kasus baru Covid-19 ini merupakan yang tertinggi sejak diumumkannya kasus pertama pada 2 Maret 2020.

Dengan demikian, angka penambahan kasus harian Covid-19 telah memecahkan rekor sebanyak empat kali pada pekan ini.

Informasi tersebut diungkap Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dalam data yang disampaikan kepada wartawan pada Jumat sore.

Adapun kasus baru pasien konfirmasi positif Covid-19 tersebar di 34 provinsi.

Dari data itu, tercatat lima provinsi dengan penambahan kasus baru tertinggi. Kelima provinsi itu, yakni DKI Jakarta (1.171 kasus baru), Jawa Barat (734 kasus baru), Kalimantan Timur (392 kasus baru), Jawa Tengah (331 kasus baru), dan Jawa Timur (293 kasus baru).

Kemudian, data yang sama juga mencatat ada satu provinsi yang tak mengalami penambahan kasus baru, yakni Maluku.

Sementara itu, penularan Covid-19 secara keseluruhan hingga saat ini terjadi di 494 kabupaten/kota yang berada di 34 provinsi. Sebanyak 4.823 kasus baru itu diketahui setelah pemerintah melakukan pemeriksaan 46.133 spesimen dalam sehari. Pada periode yang sama, ada 26.419 orang yang diambil sampelnya untuk pemeriksaan spesimen.

Total, pemerintah sudah memeriksa 3.120.947 spesimen dari 1.860.768 orang yang diambil sampelnya.

Dengan catatan, satu orang bisa menjalani pemeriksaan spesimen lebih dari satu kali.

Sembuh dan meninggal

Pemerintah juga mencatat ada penambahan 4.343 pasien yang telah dinyatakan sembuh. Dengan demikian, total pasien sembuh dari Covid-19 ada 196.196 orang. Selain itu, ada 113 penambahan pasien yang tutup usia setelah sebelumnya dinyatakan positif virus corona.

Sehingga, jumlah pasien meninggal dunia akibat Covid-19 hingga saat ini menjadi 10.218 orang. Data yang sama juga menunjukkan, ada 60.431 kasus aktif atau 22,6 persen dari yang terkonfirmasi positif berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Jumat sore.

Kasus aktif adalah pasien yang dinyatakan positif Covid-19 dan sedang menjalani perawatan. Pemerintah juga mencatat ada 112.082 suspek terkait virus corona atau Covid-19 di Indonesia.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 ( Covid-19), suspek merupakan istilah pengganti untuk pasien dalam pengawasan (PDP).

Seseorang disebut suspek Covid-19 jika mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.

Istilah suspek juga merujuk pada orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable Covid-19.

Bisa juga, orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

Presiden ambil alih penanganan

Melihat kondisi tersebut, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia ( IAKMI) Ede Surya Darmawan menilai pencegahan penularan Covid-19 di masyarakat masih kurang.

“Berarti (upaya) pencegahan kita kurang bagus. Masih banyak orang yang tertular,” kata Ede kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2020).

Lanjut Ede, strategi pemerintah untuk mencegah penularan di masyarakat juga belum berhasil dilakukan.

Berdasarkan Penelusuran Kontak Sikap masyarakat terhadap pandemi pun ia nilai belum sesuai dengan harapan pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19.

“Jadi harusnya tanda kutip kayaknya bukan lagi pendekatan edukasi atau pendekatan promosi kesehatan berarti harus proteksi di sini,” ujarnya.

“Dan proteksi ini harus dikuatkan dengan aspek legal,” ucap dia.

Sementara itu, Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menyarankan Presiden Joko Widodo ( Jokowi) mengambil alih penanganan pandemi Covid-19.

“Jadi kalau sesuai dengan targetnya enggak tercapai, ya sudah, Presiden harus pimpin langsung penanggulangan (Covid-19),”

kata Pandu kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2020).

“Tidak ada lagi Gugus Tugas, tidak ada Satgas, pemerintah dengan kementerian-kementerian menanggulanginya,” ucap Pandu.

Pandu menilai, penanganan saat ini belum efektif untuk menekan penularan Covid-19, sehingga penularan di masyarakat masih terus terjadi.

Oleh karena itu, ia menilai Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan perlu turun langsung menangani pandemi Covid-19.

“Supaya efektif harus ditangani langsung oleh negara. Orang di mana-mana enggak ada Gugus Tugas kok. Cuma di Indonesia saja pakai Gugus Tugas, pakai Satgas,” ujar dia.

source : Kompas.com 

Apakah artikel ini menarik menurut kamu?

Nilai arikel ini sekarang!

Nilai Rata-Rata 0 / 5. Jumlah Penilai: 0

Belum ada yang menilai, Jadilah yang pertama untuk menilai artikel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *