Komnas Perlindungan Anak Minta Seluruh Komponen Bangsa Awasi Kejahatan Pedofilia dan Prostitusi Online Anak

0
(0)
KETUA KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK PAK ARIST MERDEKA SIRAIT MEMBERIKAN KETERANGAN KEPADA AWAK MEDIA

Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, semua komponen bangsa harus ikut mewaspadai kejahatan seksual terhadap anak.

Hal ini terkait tentang maraknya kasus-kasus kejahatan seksual dalam bentuk fedofilia dan prostitusi online terhadap anak di Indonesia.

“Kita mengajak semua komponen bangsa terutama pemerintah, aparat penegak hukum, alim ulama, tokoh masyarakat, kalangan profesi dan akademisi untuk bahu-membahu melakukan aksi bersama memutus mata rantai kejahatan seksual terhadap anak,” ujar Arist melalui siaran persnya yang diterima awak media, Sabtu (1/2/2020).

Arist mengatakan, kejahatan seksual terhadap anak yang dilakukan dalam bentuk pedofilia, sodomi pencabulan, dan prostitusi online anak untuk tujuan seksual komersial semakin marak.

“Eksploitasi anak untuk seksual komersial, perdagangan dan penculikan untuk tujuan eksploitasi seksual, dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya seperti inses dan kejahatan seksual yang dilakukan secara orang perorang maupun bergerombol (geng rape) terus terjadi,” ujarnya.

Dia menegaskan, sudah saatnya Indonesia terbebas dari ancaman kejahatan dan perbudakan seksual serta perilaku seks menyimpang oleh orang-orang dewasa yang mengorbankan masa depan anak-anak yang tak bersalah.

“Anak membutuhkan perlindungan negara, karena anak adalah masa depan keluarga dan masa depan bangsa,” tegasnya.

Arist pun merasa khawatir apabila kejahatan seksual terhadap anak dalam bentuk dan alasan apapun, serta motivasi dan modusnya masih terus diabaikan, maka tidaklah berlebihan jika Indonesia akan kehilangan generasi (lost generation) di masa akan datang.

“Jika kasus-kasus kekerasan seksual dan kasus-kasus kekerasan bentuk lainnya terhadap anak tidak segera dihentikan, maka Indonesia bisa dinyatakan sebagai negara gagal dalam melindungi anak-anak di negerinya sendiri,” kecamnya.

Oleh karena itu, Arist mengimbau untuk menghentikan kejahatan dan perbudakan seks terhadap anak dilakukan secara bahu-membahu oleh seluruh komponen bangsa.

“Maraknya kasus-kasus kejahatan dan perbudakan seksual anak membutuhkan gerak cepat (quick respon) dalam sebuah aksi kampung dan lintas sektor,” harapnya.

Pelaku Seksual Geng Rape

Dia juga mengatakan, kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh pelaku berjumlah lebih dari satu orang (geng rape) terus terjadi di berbagai daerah.

Demikian pula kasus kejahatan seksual dalam bentuk eksploitasi anak untuk tujuan seksual komersial anak, perbudakan seks anak, dan prostitusi online anak.

“Kejahatan seksual anak dalam bentuk pedofilia juga tak henti-hentinya terus terjadi,” kata Arist.

Marak Kasus Pedofilia Anak

Belum lagi hilang dari ingatan kita terhadap peristiwa serupa di Sukabumi. Dimana seorang pedagang bakso ditangkap polisi karena melakukan kejahatan seksual dalam bentuk sodomi terhadap 47 korban anak.

Demikian juga Polresta Malang yang berhasil menangkap dan menahan seorang berprofesi guru SD di Malang, yang melakukan kejahatan seksual dalam bentuk pedofilia terhadap 40 muridnya dengan modus ingin membuat tesis untuk program studi S2.

Ungkap Kasus Kekerasan Seksual Anak

Kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Tangerang, dimana jajaran Polresta Tangerang berhasil mengungkap kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilakukan sesama jenis SU (22). Pelaku pedofilia tersebut saat ini telah diamankan Polresta Tangerang.

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi mengatakan, pelaku melancarkan aksinya sejak tahun 2017. Polisi sementara mengidentifikasi jumlah korban pedofilia tersebut sebanyak 4 orang.

“Korban berusia antara usia 12-14 tahun,” kata Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, di Polsek Balaraja, Polresta Tangerang, Jumat (31/1/2020).

Ade menambahkan, pelaku melancarkan aksinya di rumahnya pelaku, di Desa Tobat Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang. Di rumah tersebut hanya ada 2 orang penghuni yaitu pelaku dan ayahnya.

Pelaku datang menjemput korban kemudian membawa korban ke rumahnya. Di rumah pelaku, awalnya korban dan pelaku bermain game online Mobile Legends. Saat korban tengah asyik bermain, pelaku kemudian melakukan aksi pencabulannya.

“Saat korban bermain game kemudian pelaku memegang alat kelamin korban, sampai akhirnya melakukan perbuatan cabul yaitu melakukan oral terhadap korban,” terang Ade.

Tak hanya sampai di situ, setelah korban mengalami ejakulasi kemudian pelaku memaksa korban untuk melakukan hubungan badan sesama jenis dengan cara menyodomi korban.

Ade mengatakan, pelaku telah terbukti melakukan kejahatan seksual terhadap anak sebagaimana dimaksud UU RI Nomor : 35 tahun 2000 14 tentang perubahan atas UU RI Nomor : 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto UU RI Nomor : 17 tahun 2016 tentang penerapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau Perppu Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor : 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Menurut Ade, pelaku terbukti berdasarkan fakta-fakta penyelidikan melakukan pemaksaan dengan ancaman kekerasan dan juga dengan kekerasan, kemudian dengan bujuk rayu dan tipu muslihat memaksa orang untuk melakukan perbuatan cabul dalam dirinya, dan juga melakukan perbuatan cabul terhadap para korban.

“Ancaman hukumannya paling lama 20 tahun dan paling singkat 10 tahun penjara, bahkan dapat diancam dengan pidana pokok 20 tahun dan seumur hidup”.

Apakah artikel ini menarik menurut kamu?

Nilai arikel ini sekarang!

Nilai Rata-Rata 0 / 5. Jumlah Penilai: 0

Belum ada yang menilai, Jadilah yang pertama untuk menilai artikel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *